Latar belakang tradisi Nemo yang dilakukan pada saat berlangsungnya
acara Khatmil Qur’a>n di Desa Krangkeng Kecamatan Krangkeng
Kabupaten Indramayu adalah sebagai bentuk apresiasi dan syukur orang tua
beserta kerabat Khatimin dan Khatimat dan masyarakat desa terhadap
Mu’allim yang telah mendidik anaknya sampai pandai membaca Al-Qur’an.
Bagaimanakah resepsi Al-Qur’an dalam tradisi Nemo pada acara Khatmil
Qur’a>n yang ada di Desa Krangkeng ?. Penelitian ini berusaha
mendeskripsikan resepsi Al-Qur’an dalam tradisi Nemo pada acara Khatmil
Qur’a>n yang ada di Desa Krangkeng dengan menggunakan metode
penelitian Living Qur’an dan teori fenomenologi Alfred Schutz dengan dua
motifnya, motive in order to dan motive becouse. Adapun teknik yang
digunakan dalam mengumpulkan data ialah dengan cara; observasi,
wawancara dan dokumentasi sebagai bentuk riil sebuah penelitian lapangan.
Berdasarkan pengamatan lapangan, makna tradisi Nemo sendiri
merupakan syukuran penamatan Al-Qur’an dan bentuk sadaqah yang
diberikan kepada guru ngaji sebagai motive in order to untuk mengharapkan
berkah dan syafa’at dari Al-Qur’an, berawal dari Panembahan Ratu wasiat
Sunan Gunungjati “ingsun titip tajug lan fakir miskin” yang dipahami
masyarakat Desa Krangkeng untuk menghidupkan, mempelajari dan
membaca Al-Qur’an setiap hari di Musholla menjadi motive becouse atas
tradisi Nemo pada perayaan Khatmil Qur’a>n. Selain itu masyarakat juga
meresepsikan secara fungsional ayat Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 261
sebagai seruan untuk menginfakkan sebagian harta kepada orang yang
berjuang dijalan Allah (fissabilillah). Salah satunya ialah guru ngaji, dan
penghormatan kepada khatimin dan khatimat yang menggambarkan adanya
tindakan harmonisasi dan kerukunan sosial antar masyarakat.