Abstrak

Kajian al-Qur’an di Nusantara tidak bisa dilepaskan dari proses vernakularisasi. Salah satu proses vernakularisasi di Jawa Barat yaitu pada tafsir Sunda, tafsir Ayat Suci Lenyepaneun. Tafsir ini merupakan tafsir Sunda pertama di Tatar Sunda yang ditulis oleh Moh. E. Hasim. Dalam menulis Tafsir ini, Hasim hampir tidak pernah merujuk pada tafsir lain yang dianggap standar kecuali tafsir al-Azhar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penafsiran Q.S. al-Hujurat yang merupakan salah satu surat yang banyak mengajarkan mengenai etika dalam bermasyarakat, di mana etika dalam bermasyarakat saat ini sudah menyimpang dari akidah dan syariat. Pertanyaan utama yang dijawab dalam penelitian ini meliputi: (1) Bagaimana penafsiran Q.S. al-Hujurat menurut Moh. E. Hasim dalam Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun dan Hamka dalam Tafsir al-Azhar? (2) Bagaimana persamaan dan perbedaan penafsiran Q.S. al-Hujurat menurut Moh. E. Hasim dalam Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun dan Hamka dalam Tafsir al-Azhar? Penelitian ini menggunaan pendekatan kualitatif. Dalam memperoleh data, peneliti menggunakan metode kepustakaan (library research). Data yang sudah dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan tafsir muqarran (metode perbandingan). Adapun hasil dari penelitian ini bahwa (1) Penafsiran Moh. E. Hasim dalam kitab Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun sangat terlihat konteks sosial historis masyarakat Sunda. Seperti dalam menafsirkan beberapa ayat dalam Q.S. al-Hujurat ini, nampak sajian yang diberikan oleh Moh. E. Hasim merupakan solusi dari permasalahan umat Islam, khususnya masyarakat Sunda, terlihat dari bagaimana Hasim menjelaskannya dengan memakai banyak ungkapan bahasa Sunda. (2) Sedang penafsiran Hamka dalam kitab Tafsir al-Azhar lebih banyak menjelaskannya dengan pada masa Nabi dahulu, namun di akhir penafsirannya Hamka memberikan nasihat-nasihat untuk para pembaca yang pastinya akan dapat dipahami oleh seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkhusus pada suku tertentu. (3) terdapat kesamaan antara penafsiran Hasim dan Hamka ini, hal tersebut dapat terlihat pada beberapa ayat dalam Q.S. al-H}ujura>t, diantaranya: ayat 1, 4-7, 12-13 dan 16-18. Adapun perbedaan yang dapat ditemukan dalam keduanya dapat dijumpai dari segi pengambilan riwayat ataupun pemikirannya, diantaranya: ayat 2-3, 8-11 dan 15.